Tampilkan postingan dengan label Award. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Award. Tampilkan semua postingan

New York Times Dominasi Anugerah Pulitzer 2009

New York (ANTARA News/Reuters) - New York Times mendominasi Anugerah Pulitzer yang diumumkan Senin waktu AS (Selasa WITA, 21 April 2009) dengan memenangkan lima penghargaan untuk kategori berita investigatif, "breaking news" dan reportase internasional, feature foto dan kritik (analisis).

Sementara Las Vegas Sun menggondol penghargaan paling bergengsi Public Service Prize untuk laporan tingkat kematian yang tinggi diantara para pekerja konstruksi di jalur Las Vegas, demikian dewan penyelenggara anugerah yang resminya bernama "Pulitzer Prizes in Journalism, Letters, Drama and Music."

Kekuatan kerja dari peraih anugerah telah memperlihatkan jurnalisme cetak tetap yang terdepan, kata Sid Gisller, anggota dewan Pulitzer.

Koran-koran menjadi korban paling teruk dari resesi yang ditandai dengan pemecatan besar-besaran, perampingan meja redaksi dan pembatalan pengiriman koran ke rumah-rumah. Beberapa diantaranya bahkan mengurangi publikasi, memangkas gaji karyawan, sampai ada yang mengajukan pailit ke pengadilan.

"Anjing penjaga (koran-koran) tetap menggonggong. Mereka tetap menggigit. Siapa yang sehari-hari melakukan ini jika kita tidak memiliki surat kabar?" tanya Gissler lantang.

Namun tak ada satu Anugerah Pulitzer diberikan untuk laporan tentang ekonomi atau krisis keuangan, bahkan Wall Street Journal yang merupakan salah satu harian paling terhormat di AS, tahun ini tidak kebagian satu pun penghargaan.

Koran bisnis ini tidak pernah memenangkan Pulitzer sejak Rupert Murdoch mengakuisisinya dengan membeli saham Dow Jones & Co (pemilik Wall Street Journal) pada Desember 2007 lewat News Corp, padahal selama sepuluh tahun sebelum itu The Journal selalu memenangkan Pulitzer.

Penghargaan kali ini juga ditandai oleh hadirnya tantangan dari organisasi-organisasi berita yang memublikasikan semua laporannya lewat Internet dan mungkin mendorong lahirnya kategori penghargaan jurnalisme terbaru.

Ironisnya, meskipun jurnalisme online tumbuh pesat dewasa ini, tidak ada satu pun pemenang penghargaan dari organisasi berita online dan hanya Politico.com yang sebagian besar edisinya online yang masuk sebagai finalis untuk kategori karikatur, kata Gissler. Untuk kategori ini Pulitzer jatuh ke tangan Steve Breen dari The San Diego Union Tribune.

Reporter New York Times menang dalam kategori berita lempang tentang skandal seks yang mengantarkan pada pengunduran diri Gubernur Negara Bagian New York Eliot Spitzer dan liputan internasional mengenai keterlibatan AS di Afghanistan dan Pakistan di tengah kondisi penuh bahaya.

Koran yang sering disebut dengan The Times ini juga memenangkan liputan investigatif atas nama David Barstow yang mengupas para purnawirawan jenderal AS yang bekerja sebagai analis media dan direkrut oleh Pentagon untuk mempertahankan perang Irak pimpinan AS.

Gambar Obama


Penghargaan feature foto jatuh ke tangan Damon Winter, juga dari The Times, untuk foto-foto seputar kampanye kepresidenan Barack Obama, sedangkan kategori kritik (analisis) dimenangkan oleh kolumnis seni Holland Cotter, lagi-lagi dari The Times.

Organisasi berita yang memegang rekor terbanyak memperoleh Pulitzer dalam sekali penyelenggaraan (setahun) tetap dipegang The Times yang pada 2002 berhasil merebut tujuh Anugerah Pulitzer.

Sementara itu Los Angeles Times memenangkan kategori laporan paparan, lewat karya mengenai beban dan efektivitas upaya memerangi kebakaran hutan di seantero wilayah barat Amerika Serikat

Untuk kategori liputan daerah, penghargaan dibagi antara Detroit Free Press atas liputannya dalam soal kebohongan yang dilakukan Walikota Kwame Kilpatrick, termasuk penyangkalannya atas hubungan seksual dengan seorang wanita yang menjadi kepala staf kantornya, dan East Valley Tribune dari Mesa, Arizona, yang mengupas bagaimana fokus penertiban hukum dalam soal imigrasi telah membahayakan keamanan publik.

Sebaliknya untuk kategori berita nasional diberikan kepada St. Petersburg Times atas liputannya mengenai PolitiFact, yaitu prakarsa pengecekan fakta selama kampanye Pilpres yang menguji lebih dari 750 keluhan dan klaim politik.

Lane DeGregory dari St. Petersburg Times memenangkan feature tulis atas liputannya mengenai seorang gadis kecil yang ditelantarkan dalam ruangan yang dipenuhi kecoa, tak bisa berbicara atau menyuapi makan dirinya sendiri. yang diadopsi oleh sebuah keluarga muda.

Penghargaan untuk kategori foto berita diserahkan kepada Patrick Farrell dari Miami Herald atas liputannya mengenai bencana dan keputusasaan yang disebabkan oleh Topan Ike dan topan-topan lainnya di Haiti.

Kategori komentar jatuh ke tangan Eugene Robinson dari Washington Post untuk tulisannya mengenai kampanye Pilpres, sementara kategori editorial menjadi milik Mark Mahoney dari Post-Star, di Glens Falls, New York, atas tulisannya mengenai bahaya kerahasiaan pemerintah daerah.

Non Berita

Pulitzer kategori fiksi dianugrahkan kepada "Olive Kitteridge" yang ditulis oleh Elizabeth Strout, yang merupakan kumpulan cerita dari wilayah pesisir pantai negara bagian Maine.

"The Hemingses of Monticello: An American Family" karya Annette Gordon-Reed, yang sebelumnya memenangkan U.S. National Book Award pada 2008, dianugerahi Pulitzer untuk kategori sejarah. Buku ini mengisahkan satu keluarga budah yang hubungannya dekat dengan Presiden AS masa lalu, Thomas Jefferson.

Untuk kategori drama, penulis skenario drama Lynn Nottage, yang mengeksplorasi pemerkosaan sebagai senjata peperangan dalam karyanya yang berjudul "Ruined," dengan mengambil seting sebuah rumah bordil di Kongo, Afrika.

Pulitzer kategori biografi dinisbahkan untuk "American Lion: Andrew Jackson in the White House" karya Jon Meacham, sedangkan kategori nonfiksi umum diberikan kepada "Slavery by Another Name: The Re-Enslavement of Black Americans from the Civil War to World War II" karya Douglas A. Blackmon.

Dua kategori terakhir, puisi dan musik masing-masing diberikan kepada "The Shadow of Sirius" karangan W.S. Merwin dan "Double Sextet" karya Steve Reich.

Tahun ini 1.028 karya jurnalistik masuk menjadi calon penerima Pulitzer, atau turun dari tahun sebelumnya yang sempat ada 1.167 karya yang dipersembahkan demi mendapatkan anugerah paling dihormati dalam jurnalisme cetak AS. (*)

Percetakan Nusa Indah Ende Terima PWI Award

Oleh Leonard Ritan

Kupang, Flores Pos 
Percetakan Arnoldus Nusa Indah Ende dan P. Alex Beding, SVD menerima award berupa piagam penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT karena dinilai telah mencerdaskan anak-anak bangsa dan pencetus berdirinya SKM Dian. Award ini diberikan oleh Ketua PWI Cabang NTT, Dion DB Putra pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-63 bertempat di Sekretariat PWI NTT, Sabtu (28/2/2009).

Award yang sama juga diberikan kepada antara lain, Gubernur Frans Lebu Raya, Ketua DPRD NTT Melkianus Adoe, Walikota Kupang Daniel Adoe, Bupati Kupang, I. A. Medah, Piet A. Tallo, Herman Musakabe, dan Damyan Godho.

Ketua PWI Cabang NTT, Dion DB Putra mengatakan, tradisi baru yang sedang ditumbuhkembangkan dalam tubuh PWI adalah pemberian PWI Award yang dilaksanakan mulai tahun ini. Award ini diberikan kepada perseorangan atau institusi yang memberikan kontribusi terhadap kehidupan pers yang sehat dan bermutu di daerah ini.

"Tahun ini kami memberikan penghargaan kepada 12 tokoh dan institusi yang dipandang layak menerima. Sebagai tradisi baru, kami menyadari ketidaksempurnaan. Tapi tekad kami adalah, ketidaksempurnaan itu akan disempurnakan terus menerus", kata Dion.

Pemred HU Pos Kupang ini menyampaikan, dalam waktu mendatang, PWI NTT juga akan memberikan medali emas kepada perseorangan atau lembaga yang menggunakan hak jawab sesuai amanat UU 40/1999 berkaitan dengan keberatan terhadap karya jurnalistik. Tradisi ini dibangun dengan tujuan meminimalisir kekerasan terhadap pers dengan melawan hokum. Di tingkat nasional, PWI pusat sudah memberikan medali emas kepada institusi dan perseorangan pada puncak HPN 2009 tanggal 9 Februari di Jakarta.

Menurutnya, kemerdekaan pers sungguh tidak pernah di satu titik. Ancaman atau gangguan terhadap insane pers di NTT masih saja terjadi bahkan cenderung meningkat. Dalam semester pertama tahun 2008, misalnya, telah terjadi lima kasus terhadap tujuh wartawan dari media berbeda. Data itu menggambarkan beta gangguan terhadap kebebasan pers di NTT masih relatif tinggi.

"Jika pers salah, silahkan tempuh melalui mekanisme hukum yang berlaku. Ada UU 40/1999 tentang Pers. Di sana ada hak jawab, hak koreksi, klarifikasi. Hindarilah cara-cara kekerasan fisik maupun non fisik serta kriminalisasi terhadap karya jurnalistik. Hanya satu kata, lawan segala upaya kriminalisasi pers," tandas Dion.

Pada kesempatan itu diserahkan juga kartu PWI kepada 26 anggota PWI. Dengan tambahan anggota baru tersebut, total anggota PWI NTT sampai Februari 2009 sebanyak 101 orang. PWI masih membuka kesempatan kepada jurnalis yang ingin bergabung.

Gubernur Frans Lebu Raya menegaskan, keberadaan pers yang mandiri dan professional perlu mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak. Ini sebagai bagian dari upaya mewujudkan tatanan kehidupan Indonesia Baru yang maju, demokratis, dan mandiri. Keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat serta kebebasan yang dimiliki segenap insan pers, hendaknya diwujudnyatakan sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian serta tanggung jawab dalam memajukan tatanan kehidupan masyarakat.

Lebu Raya menambahkan, insan pers juga diharapkan memperhatikan pemberitaan dengan cover both sides sebagai salah satu ciri penyajian berita yang berkualitas. Ini penting sehubungan dengan semakin mengemukanya harapan masyarakat terhadap obyektivitas pemberitaan yang berimbang oleh insane pers. *

Sumber: Harian Flores Pos edisi Senin, 2 Maret 2009 halaman 13

Catatan PWI NTT: Ada informasi yang keliru. Award untuk DPRD Propinsi NTT sebagai lembaga bukan untuk ketua DPRD NTT yang sedang menjabat. 

PWI Award untuk 12 Tokoh NTT

KUPANG, PK -- Pada momentum Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT ke-63 PWI Tingkat Propinsi NTT, Sabtu (28/2/2009), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT memulai tradisi baru, menyerahkan PWI Award kepada orang dan atau lembaga yang memberikan kontribusi terhadap kehidupan pers yang sehat dan berkualitas di NTT. Ada 12 tokoh NTT yang dinilai layak menerima penghargaan tersebut.

"Sebagai tradisi baru dalam organisasi profesi ini, kami menyadari akan ketidaksempurnaan dalam pemberian penghargaan ini. Tetapi tekad kami adalah dengan ketidaksempurnaan itu, akan kami sempurnakan secara terus-menerus," kata Ketua PWI NTT, Dion DB Putra dalam sambutannya pada HPN dan HUT PWI, kemarin.

Tokoh-tokoh yang menerima penghargaan dari PWI Cabang NTT itu terdiri dari tokoh pers dan pemerintah. Tokoh-tokoh pers (lihat tabel) yang menerima PWI Award antara lain wartawan senior yang setia pada panggilan profesi dan perintis media massa di NTT.

Dion meminta para penerima PWI Award agar melihat penghargaan itu tak sekadar selembar piagam tak bermakna melainkan wujud penghargaan, apresiasi PWI terhadap jasa pendahulu, perintis pers maupun jasa secara kelembagaan dalam menciptakan kehidupan pers yang berkualitas.
"Jangan melihat nilai PWI Award yang hanya selembar kertas, tetapi itulah bentuk dari sebuah penghargaan, wujud apresiasi kami terhadap tokoh maupun institusi yang berjasa dalam mendorong kebebasan pers serta mendorong tumbuh kembangnya pers di NTT," katanya.

Dia menambahkan, PWI dan komunitas pers di daerah ini tidak boleh melupakan pihak-pihak yang telah berjasa. "Oleh karena itu, pemberian PWI Award merupakan bagian dari bentuk terimakasih kami kepada mereka," katanya.

Menurut dia, pada masa mendatang PWI NTT juga akan memberikan Medali Emas kepada perseorangan maupun lembaga yang menggunakan hak jawab sesuai UU Nomor 40 Tahun 1999 dalam menanggapi karya jurnalistik yang dinilai merugikan kepentingannya. Dion mengatakan, tradisi menggunakan hak jawab, hak koreksi dan klarifikasi harus terus ditumbuhkan. Tindak kekerasan dalam menyikapi karya jurnalistik yang dirasa merugikan harus dihindari. Kriminalisasi karya jurnalistik haruslah dilawan.

Acara HPN dan HUT PWI ke-63, dengan ketua panitianya Marsel Ali, juga diisi dengan acara penyerahan kartu anggota PWI kepada anggota baru, louncing Koperasi PWI, koor dari Pos Kupang dan diakhiri santap malam bersama. *

Penerima PWI Award

Kelompok Mitra Media :
1. Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya
2. DPRD Propinsi NTT
3. Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe
4. Bupati Kupang, Drs. Ibrahim Agustinus Medah
5. Gubernur NTT (1994-1999) Herman Musakabe
6. Gubernur NTT (1999-2008), Piet A Tallo, S.H

Kelompok Citra Pewarta Flobamora :
1. Pater Alex Beding, SVD (pendiri Mingguan Dian)
2. Percetakan Arnoldus Ende
3. Damyan Godho (wartawan senior Kompas dan mantan Ketua PWI NTT)
4. Martinus Tse (wartawan senior RRI dan mantan ketua PWI NTT)
5. Alm. Harry A Silalahi 
6. Alm. Adrianus Olin 

Deklarasi Jakarta untuk Kemerdekaan Pers

JAKARTA, PK - Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional ke-63, Senin (9/2) malam, komponen pers nasional mendeklarasikan kemerdekaan pers untuk kepentingan rakyat. 
Pernyataan komponen pers nasional yang diberi nama Deklarasi Jakarta itu disampaikan dalam acara puncak "Malam Kemerdekaan Pers Hari Pers Nasional 2009" yang diselenggarakan di Gedung Tennis Indoor, Senayan, Jakarta, Senin (9/2/2009) malam.

"Kemerdekaan pers merupakan bagian hak asasi manusia yang harus dihormati dan tidak dapat dihilangkan," demikian Deklarasi Jakarta yang dibacakan oleh Wakil Sekjen Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tri Hastuti, seperti dilansir Kantor Berita Antara menjelang tengah malam.

Hak asasi itu, diingatkan oleh Tri, merupakan perwujudan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam UU No 40/1999 tentang Pers. "Kemerdekaan pers berasal dari rakyat dan untuk rakyat. Oleh karena itu, kemerdekaan pers adalah salah satu wujud dari kedaulatan rakyat dan bukan hanya milik pers saja," demikian Tri. 

Deklarasi tersebut menyatakan bahwa gangguan dan hambatan terhadap pelaksanaan kemerdekaan pers oleh pihak manapun pada hakikatnya adalah pengkhianatan terhadap rakyat yang dapat membahayakan keselamatan terhadap kemanusiaan.
Deklarasi tersebut menghasilkan lima poin keputusan. Pertama, tidak ada satu pihak pun yang boleh menghambat dan atau mengganggu pelaksanaan kemerdekaan pers. Kriminalisasi terhadap wartawan yang menjalankan tugas profesionalnya sesuai kode etik jurnalistik merupakan salah satu bentuk gangguan dan hambatan terhadap pelaksanaan kemerdekaan pers.

Kedua, kemerdekaan pers harus dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat, dan bukan untuk kepentingan sekelompok atau segelintir orang termasuk para penguasa dan pemilik modal. Ketiga, dalam menangani masalah pemberitaan pers, semua pihak harus mendahulukan UU No 40/1999 tentang Pers dan setelah mendengar pertimbangan Dewan Pers.

Keempat, perlu ditegakkan dan dihormati prinsip perlindungan hukum bagi wartawan dalam menjalankan profesinya. 
Kelima, wartawan perlu terus menerus meningkatkan kompetensinya dan ketaatan kepada kode etik jurnalistik.
Deklarasi tersebut ditandatangani oleh sembilan ketua organisasi profesi wartawan atas nama komponen pers nasional: Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal, Ketua umum PWI Pusat Margiono, Ketua Umum Serikat Pekerja Suratkabar (SPS) Dahlan Iskan, Ketua Umum Serikat Grafika Pers (SGP) Lukman Setiawan, Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Imam Wahyudi, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Harriz Thayeb, Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Sidzki Wahab, Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATSI) Karni Ilyas, dan Ketua Umum Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATLI) Imawan Mashuri.


Penghargaan
Peringatan HPN juga dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dalam pidatonya mengingatkan pers untuk menumbuhkan demokrasi di Indonesia, terutama menjelang Pemilu 2009.

Dalam kesempatan itu, Presiden Yudhoyono dan Tentara Nasional Indonesia dianugerahi penghargaan medali emas kemerdekaan pers oleh PWI yang diserahkan kepada lembaga dan individu yang menghormati kebebasan pers dengan menggunakan mekanisme hak jawab untuk menanggapi kasus pemberitaan di media massa.

Presiden Yudhoyono tercatat sebagai individu yang sejak 2005 hingga 2008 paling banyak menggunakan hak jawab untuk menanggapi kasus pemberitaan di media massa.Penghargaan sejenis diserahkan kepada TNI sebagai lembaga yang paling banyak menggunakan hak jawab menanggapi kasus pemberitaan di media massa selama 2008. (ant)

17 Wartawan Terima Anugerah Adiwarta Sampoerna

Jakarta (ANTARA News) - Sebanyak 17 wartawan Indonesia yang bertugas di beberapa daerah dan ibukota menerima penghargaan Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 yang diumumkan Kamis malam.

Untuk tulisan dengan kategori Humaniora Seni Budaya diraih oleh Silvia Galikano dari Majalah Cocktail dengan "Misinya Menulis". Sedang kategori foto berita seni dan budaya dimenangkan Priyambodo dari Harian Kompas dengan judul "Terbakar".

Pemenang kategori berita humaniora bidang olahraga adalah Lasti Kurnia (Kompas) dengan judul "Berprestasi untuk Mengubah Dunia". Marta Nurfaidah (Surya) berhasil merebut juara kategori berita sosial dengan tulisan berjudul "Kehidupan Pengungsi Sampit di Pasar Keputran". Muhlis Suhaeri (Borneo Tribune Pontianak) dengan judul tulisan "The Lost Generation". 

Fotografer Reuters, Crack Palinggi meraih dua gelar di ajang tahunan itu, yakni foto berjudul "Untuk Indonesia" untuk kategori foto olahraga dan "Polusi" untuk kategori foto sosial. 

Tak ketinggalan fotografer LKBN ANTARA, Prasetyo Utomo memenangi kategori foto bidang hukum dengan judul "Sumpah Al Amin". Foto karya Wahyu Setiawan (Koran Tempo) berjudul "Tekanan Politik" menjadi foto terbaik kategori politik. Demikian juga dengan A. Ibrahim (AP) yang mengirimkan foto berjudul "Hancur" menjadi pemenang kategori foto bidang ekonomi.

Tulisan wartawan Modus Aceh, Arsadi Laksamana berjudul "Tiga Tahun MoU, Adakah Yang Berubah" memenangi katagori reportase investigatif politik. Tjipta Lesmana (Majalah Telstra) dengan membuat tulisan berjudul "Pers Nasional, Antara Ruh dan Kinerja" menjadi yang terbaik dalam kategori bidang humaniora politik.

Tulisan berjudul "Nelayan Asing Menjarah Laut, Menebar HIV/AIDS" karya Hendri Firzani (Gatra) menjadi pemenang kategori reportase investigatif bidang hukum.

Irawan Santoso (Majalan Mahkamah) memenangi kategori humaniora bidang hukum dengan tulisan berjudul "Merindukan Advokat Pejuang". Yeni Simanjuntak (Bisnis Indonesia) yang menurunkan tulisan "Menyoal Dana Investasi" menjadi tulisan terbaik kategori reportase investigasi ekonomi.

Marlini Hasan Pontoh (Femina) yang mengirimkan tulisan terbaik berjudul "Meraup Triliunan Rupiah Lewat Gagasan". Liputan berjudul "Salomina Berjuang untuk Meraih Pendidikan" yang dilakukan Anastasya Putri dan Anto Sukma (SCTV) meraih penghargaan untuk kategori berita televisi.

Selain Prasetyo Utomo, dua fotografer LKBN ANTARA, Andika Wahyu dan Musyawir menjadi nominator di ajang tersebut. Satu pewarta tulis LKBN ANTARA lainnya, Masuki M. Astro juga menjadi nominator untuk kategori humaniora ekonomi dengan judul tulisan "1001 Cara Petani Tembakau Madura Kejar Harga".

Untuk tahun ini kategori reportase investigatif olahraga dan seni budaya tidak ada pemenangnya.

"Meskipun karya-karya yang masuk untuk kategori ini sudah cukup baik secara keseluruhan, masih ada beberapa elemen yang belum lengkap, seperti kekuatan dan akurasi data dalam karya tersebut. Mudah-mudahan hal ini dapat memotivasi para jurnalis untuk meningkatkan kualitas karya-karyanya," kata pakar komunikasi, Effendi Gazali, yang menjadi salah satu juri di ajang tersebut. (*)

Mochtar Lubis Award: Demi Kualitas Jurnalistik

Jakarta, Kompas - Para pemenang dan penerima Mochtar Lubis Award yang dimotori Lembaga Studi Pers dan Pembangunan atau LSPP diumumkan, Jumat (18/7) malam. Dengan pemberian penghargaan tersebut, kualitas jurnalistik dari segi profesionalitas, etika, serta keberanian membela kebenaran dan keadilan diharapkan semakin meningkat, seperti yang telah diteladankan wartawan tangguh Mochtar Lubis.

Mochtar Lubis merupakan pemimpin dan pendiri Indonesia Raya yang terbit tahun 1949 hingga 1958 kemudian dibredel. Mochtar dipenjara selama 10 tahun.

Indonesia Raya terbit kembali pada tahun 1968 hingga 1974 sampai kemudian ditutup selama-lamanya. Mochtar Lubis merupakan tonggak dan legenda hidup pejuang kebebasan pers. Mochtar juga dikenal sebagai sastrawan dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi Horison.

Pemenang Fellowship Investigasi diberikan kepada Bambang Muryanto (The Jakarta Post), Masjidi (MQ Radio) dan Gigin W Utomo (majalah Swasembada Yogyakarta) dengan proposal investigasi "Korupsi Dana Rekonstruksi Pascagempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006".

Pemenang Kategori Feature adalah Ahmad Arif, Luki Aulia, dan Aryo Wisanggeni Gentong (harian Kompas) dengan karya "Meno Kaya Tidur di Selokan".

Kategori Investigasi dimenangi Muhlis Suhaeri (harian Borneo Tribune, Pontianak) dengan karya "The Lost Generation".

Untuk kategori In-Depth TV Reporting terdapat dua pemenang, yakni Darussalam Burnahan dan kawan-kawan (ANTV) dengan karya Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi serta Endah Saptorini dan kawan-kawan dari Astro Awani dengan karya Pintu Harapan untuk si Miskin.

Kategori Publik Service dimenangi Asrori S Karni (Gatra) dengan karya "Politik Pendidikan Penebus Dosa". Kategori Foto Jurnalistik dimenangi Arie Basuki (Koran Tempo) dengan karya "Dag Dig Dug di Bukit Segambut".

Para pemenang masing-masing mendapatkan hadiah uang Rp 50 juta, sementara untuk Kategori Fellowship Rp 40 juta.

Direktur Program Mochtar Lubis Award, sekaligus Direktur Eksekutif LSPP Jakarta, Ignatius Haryanto, dalam sambutannya mengatakan, acara itu diadakan guna memperpanjang semangat jurnalistik dan memberikan penghargaan tertinggi kepada para jurnalis terbaik. "Dengan penghargaan ini, kami ingin merangsang hadirnya karya jurnalistik berkualitas," ujarnya. (INE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/19/02472387/penghargaan.untuk.tingkatkan.kualitas.

jurnalistik

Keterangan foto
KOMPAS/LASTI KURNIA / Kompas Images
Dewan Pengawas Mochtar Lubis Award Aristides Katoppo (kiri) memberikan selamat kepada para pemenang Mochtar Lubis Award 2008, (dari kiri) Muhlis Suhaeri (harian Borneo Tribune), Asrori S Karni (majalah Gatra), Ahmad Arif dan Luki Aulia (harian Kompas), serta Arie Basuki (Koran Tempo) di Hotel Century Atlet Park, Senayan, Jakarta, Jumat (18/7). Mochtar Lubis Award 2008 baru pertama kalinya diberikan, yang terdiri atas enam kategori pemenang, yaitu Features, Investigasi, Foto Jurnalistik, Public Service, In-Depth TV Reporting, dan Fellowship.