Tampilkan postingan dengan label Online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Online. Tampilkan semua postingan

Warga Wartawan

Oleh Lukas Luwarso
Sekretaris Eksekutif Dewan Pers

Di era media interaktif, profesi jurnalisme telah mati. Pembunuh profesi wartawan adalah teknologi internet. Kini, wartawan adalah siapa saja yang dapat mengakses internet, menulis, dan meng-up-load (mengirim) informasi ke media maya. Media tradisional--seperti koran, majalah, termasuk radio dan stasiun televisi yang non-interaktif-boleh saja merasa memiliki eklusivitas mengidentifikasi siapa wartawan atau bukan, namun siapa peduli?

Media massa terus bertransformasi, era media tradisional menjelang usai. Era broadsheet membawa satu koran untuk satu pembaca; broadcast membawa satu acara ke jutaan pemirsa; broadband membawa jutaan media (cetak, siaran, dan cyber) ke satu orang. Kini informasi yang mencari pembaca atau penonton, bukan sebaliknya. Dan informasi diproduksi dan disebarkan tanpa mengenal tenggat waktu, tidak ada dead-line dan tidak ada jeda. Media tradisional musti didampingi dengan media-maya agar tidak terjadi jeda-informasi. Websites dan wartawan warga kini adalah bagian esensial dari jurnalisme.

Pasokan informasi yang tanpa henti itu jelas tidak mungkin lagi cuma disediakan oleh sekelompok orang yang dulu eklusif dikenal sebagai wartawan. Kerja menyebarkan informasi telah secara suka rela diambil alih oleh wargawan (Wartawan-warga). Karena dikerjakan secara beramai-ramai, informasi wargawan seringkali lebih lengkap dan akurat ketimbang laporan satu atau beberapa wartawan.

Itu sebabnya, CNN memiliki program berita "I-Report" (yang juga diadopsi oleh Metro-TV), Yahoo meluncurkan YouWitnessNew, yang "mempekerjakan" ribuan wargawan tanpa harus memberi gaji. Tidak aneh, jika satu portal berita di Kanada, NowPublic, mengklaim mempunyai "reporter" sebanyak 60.000. Selain itu, melalui blog, jutaan individu kini bukan saja dapat mengklaim sebagai wartawan, melainkan juga memiliki media. Blogging kini sinonim dengan reporting.

Blogging kadang lebih unggul dari sekadar reporting (di media tradisional), karena dapat berinteraksi dengan pembaca. Jika satu informasi tidak lengkap, kurang akurat, atau bahkan salah, maka segera dapat di lengkapi, dikoreksi atau dicabut. Persoalan pelayanan hak jawab, yang begitu rumit dalam media cetak atau siaran, tidak berlaku lagi. Pihak yang dirugikan oleh satu informasi di blog dapat menulis komentar (hak jawab) yang lebih panjang, di tempat yang sama, dan dalam waktu hampir bersamaan.

Bukan itu saja, pembaca blog dapat sekaligus menjadi narasumber, reporter, atau redaktur untuk melengkapi dan memperbaiki informasi. Sehingga kelemahan seorang reporter dalam mengemas informasi dapat disempurnakan oleh pembaca yang juga reporter, redaktur dan narasumber. Intinya, dalam media maya dimungkinkan adanya gotong royong dalam mengumpulkan, mengolah, dan menyampaikan informasi.

Dengan demikian, tidak berlebihan jika harus diwartakan: turut bela sungkawa atas matinya profesi wartawan. Profesi ini telah menjadi ketinggalan zaman, gagap, dan uzur. Khususnya, berita kematian ini tertuju pada mereka yang masih menyebut diri "insan pers" yang lebih sering meneriakkan bahwa wartawan adalah "profesi", namun tidak pernah menerapkan profesionalisme. Bagi wartawan profesional sejati--yang tidak pernah menyatakan wartawan adalah profesi-yang mati adalah cuma penamaan, bungkus, jasad, bukan esensi. Jurnalisme adalah karya, dan karya tidak akan pernah mati.*

http://www.dewanpers.org/dpers.php?x=opini&y=det&z=b718ebf9bf965326b71d26cf672827d7

Kebutuhan Tenaga ICT Andal Sangat Besar

KEBUTUHAN akan tenaga-tenaga di bidang teknologi informasi dan komunikasi atau ICT (information and communication technology) sangat besar, dan terbuka luas. Tantangan ekonomi global terutama membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif, dan disertai dengan kemampuan multimedia.

Dunia bisnis umumnya, dan industri pers secara khusus banyak membutuhkan tenaga ICT. Di Indonesia, ICT yang lahir dari revolusi ideologi informasi datang bersamaan dengan industri media massa dengan iklim kebebasan pers.

Demikian disampaikan Presiden Komisaris Kompas Gramedia (KKG) Jacob Oetama saat memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di kampus UMN kawasan Summarecon Jalan Boulevard Gading Serpong, Tanggerang, Provinsi Banten, Jumat (5/9/2009).

Menurut Jacob, pendirian UMN untuk menjawab tantangan era teknologi informasi dan menyiapkan indikator bisnis yang kondusif. "Kekuatan utama terletak pada kemampuan seseorang untuk berbuat dan berkreativitas. Kekuatan ini sebagai modal dasar membangun bisnis skala besar seperti halnya Kompas Gramedia. Butuh pula kemampuan di bidang multimedia agar dapat bersaing di dalam industri media baik di tingkat nasional, Asia hingga Eropa," kata Jacob.

Pendiri harian Kompas ini menambahkan nilai-nilai budaya lokal perlu dikembangkan melalui ekonomi kreatif. Salah satu dari sumber kekuatan untuk mengelola itu adalah tenaga manusia yang dilengkapi dengan kemampuan technopreneur yang sanggup dan mandiri. "Sehingga tidak hanya terampil tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Program-program unggulan dan fasilitas yang kita bangun di lahan seluas 8 hektar menjadi awal untuk mewujudkan UMN menjadi perguruan tinggi unggulan khusus di bidang multimedia," kata Jacob.

Senada dengan Jacob, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu juga mengatakan UMN merupakan salah satu perguruan tinggi yang khusus memersiapkan mahasiwanya menjadi sarjana yang andal di bidang multimedia. Pada era teknologi informasi, berbicara masalah perdagangan dunia maka Indonesia khususnya perguruan tinggi tidak hanya terjebak dalam masalah ekonomi secara umum tetapi harus lebih spesifik. Sebab prospek ekonomi untuk meningkatkan daya saing di era modern lebih tepatnya kepada ekonomi yang kreatif salah satunya Multimedia. Ekonomi kreatif itu adalah kreatifitas artistik dan sains engineering.

Jika kreativitas artistik lebih kepada kerajinan dan seni, maka bagaimana mewujudkannya dalam bentuk sains engineering. Artinya dewasa ini bisnis multimedia sangat menjanjikan dan banyak menciptakan lapangan kerja. "Seperti kita lihat dunia perfilman, animasi, dan multi media jurnalis. Khusus di bidang ini mencapai 35 persen tenaga kerja. Dengan berdirinya UMN akan menjawab tantangan itu," kata Mari Pangestu menutup pembicaraannya.

Kampus UMN berdiri di atas lahan seluas 8 hektar yang akan dilengkapi berbagai fasilitas seperti ruang kuliah, laboratorium dan penelitian, dan perpustakaan berstandard internasional. Selain itu dilengkapi pula dengan gedung convention center bagi mahasiswa. Menurut Ketua Yayasan UMN, Teddy Suryadi target pembangunan seluruh fasilitas akan diselesaikan dalam waktu satu tahun. (persda network/ndr)

Progarm Studi Ilmu Komunikasi UMN
* Prodi Ilmu Komunikasi
- Multimedia Journalism
- Multimedia Public Relation
* Program Studi Komunikasi Visual
* Program Studi DKV
- Artand Design
- Animation
- Digital Cinematography
* Program Studi Teknik Informatika
Menghasilkan lulusan
- Aplikasi Mobile
- Multimedia dan Web
- Sistem Database

* Program Studi Sistem Komputer
Menghasilkan lulusan
- Sistem Telekomunikasi Mobile
- Embedded System
- Jaringan Komputer Internet

* Program Studi Sistem Informasi

* Program Studi Manajemen
- Manajemen Pemasaran
- Manajeman Keuangan

* Program Studi Akuntansi
- Auditing
- Taxation

Bukan Bekerja, Tetapi Ciptakan Lapangan Kerja

RATA-RATA motivasi dari para mahasiwa yang masuk ke Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bukannya ingin mencari pekerjaan tetapi ingin menciptakan lapangan pekerjaan dengan kemampuan yang didapatkannya selama mengikuti kuliah di UMN. "Bukan untuk bekerja tetapi menciptakan lapangan pekerjaan. Sebab di UMN kita dituntut untuk menjadi seorang technopreneur yang handal dan keinginan kami ya menjadi seorang sarjana yang multi media ujar," Alvin mahasiswa jurusan Sistem Informasi UMN di sela-sela kuliah umum di UMN, Jumat (5/9/2008).

Menurut Alvin selain diajari kemampuan multi media juga dibimbing bagaimana menjadi seorang yang memiliki jiwa interpreneurship. "Tentunya harus diimbangi dengan sikap (akhlaq) yang baik," kata Alvin.

Sementara itu Sinta yang mewakili 385 mahasiswa baru UMN mengaku sangat termotivasi setelah mendapatkan arahan dan materi yang disampaikan Menteri Pedagangan Marie Pangestu yang kini menantang para mahasiwa UMN agar dapat berkreativitas di bidang animasi yang kini tengah menjadi program Departeman Pedagangan. Seperti diketahui bidang animasi di bidang perfileman sangat menjanjikan.

Lihat saja flem kartun yang ditonton hampir seluruh anak-anak di Indonesia. Namun sayangnya film animasi dikuasai pihak luar seperti Jepang dan Amerika."Tentunya kami tertantang dan ingin berkreasi dengan membuat film kartun khas Indonesia. Untuk itu kami berharap di UMN ini memberikan bekal untuk menjawab tantangan dan siap memberikan karya," kata Sinta.

Menanggapi ini Rektor UMN, Prof Yohanes Surya PhD mengatakan di era globalisasi yang dinamis ini yang menyatukan warga bumi sebagai satu komunitas, UMN menempatkan diri sebagai sebuah center of excellence suatu kawah candradimuka bagi pengembangan manusia yang handal dalam bidang ICT Indonesia," kata Yohanes. (persda network/ndr)

Pos Kupang Minggu 7 September 2008, halaman 11

Kantor Berita Sedunia Perangi Hackers

Baku (ANTARA News) - Aliansi kantor-kantor berita sedunia yang sedang berkonferensi di Baku, ibukota Azerbaijan, Rabu, menyatakan perang terhadap para hackers yang mengacaukan informasi dan merusak website mereka di internet.

Presiden Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (OANA) Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf dan Presiden Aliansi Kantor Berita Eropa (EANA) Dr.Wolfgang Vyslozil bersumpah bahwa kantor berita harus berada di garda depan untuk menyebarluaskan berita yang akurat, obyektif, independen dan tidak bias.

Konferensi diselenggarakan dalam kaitan pertemuan ke-30 Dewan Eksekutif OANA yang beranggotakan 41 kantor berita dari 33 negara.

Mukhlis Yusuf yang juga Dirut Perum LKBN Antara adalah Presiden OANA untuk periode 2008-2010. Sedangkan EANA beranggotakan 31 kantor berita dari 31 negara di Eropa. Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev membuka dan berdiskusi dengan peserta konferensi.

Menurut Mukhlis, kantor berita harus bisa menyuarakan kebenaran dan mereka yang tidak memiliki suara dengan pemberitaan yang tidak memihak dan independen.

"Banyak sekali berita. Informasi membanjir di internet tanpa harus membayar. Tapi, itu belum tentu bisa diandalkan kebenarannya. Yang sudah teruji keakuratannya adalah informasi dari kantor berita," kata Mukhlis.

Perkembangan media dalam 10-15 tahun terakhir ini dinilai sangat cepat dan dramatis. Untuk menjadi penerbit tidak sesulit dulu.

"Anda hanya perlu laptop, server dan koneksi Internet, jadilah anda wartawan sekaligus penerbit," kata Wolfgang Vyslozil.

Internet telah membuat peningkatan sumber berita dan membuat orang bisa memiliki akses untuk menyampaikan aspirasi, pendapat dan opininya, seperti yang dilakukan para bloggers dan anggota mailing list.

"Tapi berita di internet banyak yang menyesatkan dan bias. Itu sebabnya kantor berita sangat penting dan perannya meningkat," kata Wolfgang yang juga CEO kantor berita Austria APA.

Peran kantor berita makin dirasakan manfaatnya pada saat perang informasi sekarang ini dimana para hackers mengacaukan informasi dan musuh "menghancurkan" website kantor berita. Tidak dijelaskan kantor berita mana saja yang sudah "dikerjai" para hackers.


Liputan independen

Sementara itu, dalam pertemuan dengan peserta konferensi di Istana Kepresidenan, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menekankan pentingnya liputan yang independen. Media harus bebas menyuarakan kebenaran dan bukannyan kebohongan.

"Pandangan dan pendapat boleh berbeda-beda, sikap juga boleh bertentangan, tapi media harus akurat. Karena tugas media adalah menyampaikan kebenaran," katanya.

Presiden Aliyev memberi contoh banyak berita tentang negeri yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Kejahatan-kejahatan yang dilakukan Armenia, negara tetangga yang bermusuhan, tidak pernah diekspos secara luas.

"Wartawan seolah tutup mata terhadap Armenia, tapi sedikit saja ada masalah di Azerbaijan, pasti jadi fokus pemberitaan," kata Aliyev.

Untuk itu, ia mengundang wartawan dari OANA dan EANA untuk datang ke negeri kaya minyak berpenduduk 8,5 juta jiwa itu.

"Lihatlah dengan mata kepala sendiri, terjunlah ke jalan-jalan, wawancarai rakyat kami, ceritakanlah negeri kami apa adanya," demikian Ilham Aliyev.(*)

http://www.antara.co.id/arc/2008/9/3/kantor-berita-sedunia-perangi-hackers/