Dari Nostalgia SBY di Atambua (2)

Oleh Ferdinandus Hayong

MENGENAKAN baret hijau. Gagah dan tampan. Nostalgia 25 tahun lalu teringat kembali. Semua mata tertuju pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika memasuki aula Graha Vivava. Mars Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bakti membahana dari mulut ratusan prajurit ketika rombongan melangkah ke podium.

Komandan Yonif 744/SYB, Letkol (Inf) Asep Nurdin membakar semangat. Mars berakhir. Semua diam. Protokol membuka suasana, menyapa setiap undangan yang hadir. Danyon 744/SYB menyapa dengan sekapur sirih, menyampaikan penghormatan atas kunjungan sesepuh Danyon 744/SYB yang kini menjadi Presiden RI.

Profil sejarah Yonif 744/SYB diputar pada layar lebar yang dipasang di hadapan rombongan SBY dan para prajurit. Hening. Protokol pun melanjutkan acara. Mempersilakan Presiden SBY memberikan amanah. Tepuk tangan membahana.

Presiden SBY menyatakan kegembiraannya bisa hadir bersama istri di Batalyon yang pernah dipimpinnya. Batalyon 744/SYB dalam sejarahnya memiliki keunikan dan kekhasan dibandingkan dengan batalyon lainnya di republik ini. Ketika batalyon ini masih ada di Timor Timur, yang melekat di dada para prajurit adalah mempertahankan sang Saka Merah Putih. Namun, katanya, dalam perjalanan, sejarah itu berubah, Timtim menjadi negara berdaulat lepas dari NKRI menyebabkan Batalion 744/SYB hijrah ke Pangkuan NKRI dan bermarkas di NTT. Sejarah khas itu tidak sekadar memori dan nostalgia yang penuh kenangan. Nostalgia penuh kebanggaan yang luar biasa. Tidak ada batalyon di Indonesia yang memiliki keunikan sejarah seperti batalyon 744/SYB.

Beberapa batalyon yang dulunya hadir di Propinsi Timor Timur kini sudah dilikuidasi. Ada kekhususan buat Batalyon 744/SYB, yang tetap berdiri hingga saat ini. Selaku kepala negara dan kepala pemerintahan, SBY memberikan peringatan kepada prajurit TNI untuk menjalankan tugas dengan tetap berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.

Pasalnya, tugas TNI sudah diatur dengan jelas, menegakkan kedaulatan RI dan menjaga Sang Saka Merah Putih serta menghindari gangguan dari negara lain terhadap keutuhan NKRI.

Ada dua tugas militer yang tidak boleh dilupakan, yakni operasi militer untuk perang dalam mempertahankan negara dan operasi militer selain perang, seperti operasi menanggulangi bencana alam, operasi teroris, operasi pemeliharaan keamanan dunia dan sejenisnya.

Bagi prajurit TNI di Yonif 744/SYB harus mendalami dua tugas ini dengan terus berlatih dan siap melaksanakan perang, ini wajib hukumnya,” pesan SBY.

Kepada pimpinan TNI, SBY meminta agar memimpin prajurit dengan baik. Ada dua tugas seorang komandan/pimpinan, yakni memastikan prajuritnya dapat berhasil dalam menjalankan tugas serta memperhatikan kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Perlu menjalin hubungan yang harmonis dengan prajurit. Prajurit menghormati atasannya dan atasan menyayangi bawahannya.

Prajurit TNI juga harus selalu dekat dengan rakyat. Tanpa dukungan rakyat TNI tidak berhasil dalam menjalankan tugas. TNI harus mencintai rakyat dan membantu rakyat dalam semua aspek kehidupan. Gerakan TNI masuk desa perlu ditingkatkan. Prajurit TNI pun harus menghormati hukum dan etika keprajuritan.

Selaku sesepuh Yonif 744/SYB, Presiden SBY pun bernostalgia. Menceritrakan kilas balik perjuangannya semasa masih di Timor Timur. Para prajurit termasuk mantan anak buahnya mendengar cerita SBY. Mengemban tugas negara, keluarga diboyong ke Timtim. Kedua putranya, Agus dan Baskoro merasakan pahit getirnya kehidupan di Timor Timur. SBY mengenang. Sekitar tahun 1986-1988 dirinya memimpin pasukan bertempur melawan gerakan pengacau keamanan (GPK) di sektor barat terutama di Aitara.

Sebelumnya bersama tamtama, bintara menyisir di daerah operasi dari Ainaro, Tamlaki, Maubesi dan sekitarnya. Tugas utama adalah mencari tokoh GPK, Julio Sarmento. Kontak senjata pun terjadi. Pasukannya berhasil melumpuhkan Sarmento.


Saya dilapori prajurit bahwa musuh belum tewas, tapi luka berat. Perintah saya waktu itu kepada tim combet dan pengawal untuk membawa ke atas (pos komando berada di atas bukit, Red). Prajurit ragu-ragu waktu terima perintah saya. Malah prajurit berusaha menyarankan, komandan ini musuh. Saya sampaikan, benar itu musuh tapi bawa ke atas dan selamatkan. Prajurit masih ragu-ragu, saya turun ke bawah. Medan sangat terjal. Sementara persediaan logistik terbatas. Udara kurang bersahabat, tapi kami berusaha untuk membawa lawan yang sudah tidak berdaya. Saya perintahkan Dokter Putu yang saat itu berpangkat Lettu (sekarang kolonel, Red) membuat hidup tawanan itu. Saya tahu bahwa yang bisa menyelamatkan nyawa tawanan ini adalah Yang Maha Kuasa, tapi saya perintahkan jangan sampai tewas,” kenang SBY.

Tawanan itu, kata SBY, tetap dibawa ke atas meskipun kondisi udara sangat tidak bersahabat. SBY meminta bantuan helikopter untuk mengamankan tawanan, namun cuaca buruk. Warga Timor Timur ketika itu menyampaikan lulik (pemali) karena awan sangat tebal. Namun, helikopter tetap datang dan membawa tawanan ke Dili untuk selanjutnya diterbangkan ke Jakarta dalam keadaan hidup. Drama penangkapan tawanan itu mendorong almarhum Edi Sudrajat bersama Mayor J.K Makarim melihat dari dekat posko di puncak bukit.

Saya hanya mau gambarkan bahwa ini kondisi kami ketika itu. Bagaimana prajurit berjuang untuk mempertahankan merah putih. Kita bisa bawa tawanan dalam keadaan hidup. Dalam sejarah batalyon ini, sejarah mencatat bahwa saat itu pasukan kami berhasil membawa tawanan dalam keadaan hidup. Saya minta contohilah perjuangan para seniormu yang pernah bersama saya berjuang di Timor Timur. Saya sangat bangga dengan anggota saya yang saat ini hadir bersama kalian (prajurit). Contohilah mereka,” pinta SBY kepada prajurit Yonif 744/SYB.

Semua prajurit manggut-manggut. Presiden SBY mengakhiri amanat. Selama 1 jam Presiden SBY mencuci otak’ para prajurit. SBY bahkan menunjukkan kepada prajurit meskipun sudah menjabat sebagai presiden, ia masih mengingat kenangan perjuangannya dahulu yang ditunjukkan dengan tidur di tenda. Presiden mau menunjukkan kepada para pemimpin di negara ini untuk selalu dekat dengan rakyat, tidur bersama rakyat untuk mendengar denyut hati rakyat.

SBY mengajarkan kepada prajurit untuk taat hukum dan aturan keprajuritan. Meski hanya 18 jam berkunjung ke Atambua, namun kehadiran SBY memberi nilai plus bagi pemerintah dan jajaran TNI di daerah ini. (habis)

Pos Kupang, 13 Februari 2011 halaman 1

Terima Kasih Presiden

KUPANG, PK -- Pernyataan terima kasih dan rasa hormat disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono atas kunjungannya selama empat hari di Nusa Tenggara Timur.

Hal itu antara lain disampaikan Sekda NTT, Frans Salem, S.H dan Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe serta para pejabat lingkup Pemerintah Propinsi NTT dan TNI ketika menyambut Presiden di Pelabuhan Tenau Kupang sekembalinya dari Atambua, Jumat (11/2/2011) sore.

Presiden, yang didampingi beberapa menteri dan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya berkunjung ke Timor Tengah Selatan (TTS) dan Belu melalui jalan darat, kembali ke Kupang dengan menumpang KRI Slamet Riyadi dari Atapupu dan tiba di Pelabuhan Tenau, pukul 16.18 Wita.

Saat tiba di pelabuhan itu, Presiden diterima dengan upacara militer singkat oleh TNI AL. Usai upacara, Presiden bersalaman sekaligus pamit kepada Sekda NTT, Frans Salem dan Walikota Kupang, Daniel Adoe serta pejabat TNI, pegawai Pelindo di berbagai kantor di kawasan Tenau. Mereka menyampaikan terima kasih dan hormat atas kunjungan Presiden selama empat hari di NTT.

Menurut seorang anggota Paspampres, kunjungan Presiden di NTT merupakan yang terlama. "Selama ini kami mengawal kunjungan beliau ke daerah-daerah. Kebanyakan pergi langsung pulang ke Istana. Jika bermalam, paling lama satu malam. Tapi di NTT beliau tiga malam, semalam tidur di Rumah Jabatan Gubernur NTT, semalam tidur di Rumah Jabatan Bupati TTS dan semalam tidur di barak Yonif 744. Masyarakat NTT patut mensyukuri itu," kata anggota Paspampres itu.

Informasi yang dihimpun Pos Kupang di Pelabuhan Tenau menyebutkan, Presiden juga menyempatkan diri melihat Pulau Batek. Pulau ini merupakan pulau terluar yang membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah. Dari Pelabuhan Tenau, Presiden dan rombongan langsung menuju Bandara El Tari untuk kembali ke Jakarta.

Sejak pukul 15.00 wita, puluhan warga Kupang tampak berdiri di kiri kanan Jalan Adi Sucipto. Ada orang muda, orang tua, bahkan anak-anak. Ada juga siswa sekolah dasar dan sekolah menengah yang masih mengenakan pakaian seragam. Mereka tampak asyik mengobrol sambil menantikan iring-iringan rombongan Presiden yang melintas di jalan itu menuju Jakarta.

Di sepanjang area parkir Bandara El Tari, barisan panitia HPN, polisi dan masyarakat dari berbagai instansi pemerintah, berdiri menantikan Presiden yang akan meninggalkan Kupang. Area parkir pun direlokasi tenaga keamanan ke samping kanan halaman bandara.

Aktivitas di bandara tampak sepi, kecuali warga yang berdatangan untuk melepas kepergian orang nomor satu di republik ini. Saat yang dinanti-nantikan pun tiba.
Pada pukul 15.00 iring-iringan kendaraan rombongan Presiden memasuki halaman bandara. Begitu cepat, rombongan itu memasuki lapangan. Suasana ramai terjadi hanya sekitar tiga menit. Setelah rombongan Presiden memasuki bandara, di luar bandara tampak sepi. Hanya beberapa tenaga keamanan saja yang terlihat sibuk.

Beberapa pegawai yang masih mengenakan pakaian dinas terlihat kecewa dan berkata, "Kita pikir ada lambaian tangan, padahal begini saja," katanya. Ratusan warga yang berbaris di halaman bandara pun berhamburan pulang ke rumah masing- masing, kecuali petugas keamanan masih terlihat siaga.

Setelah Presiden pulang, di sepanjang Jalan Adi Sucipto, Jalan El Tari 2 dan Jalan El Tari 1, beberapa warga membereskan spanduk-spanduk. Di Jalan El Tari 1, depan rumah jabatan gubernur, spanduk-spanduk terlihat sudah diturunkan dan tergeletak di trotoar. (gem/kk)

Pos Kupang, 12 Februari 2011 halaman 1

Sabu Raijua Stan Terbaik HPN

KUPANG, PK -- Dewan juri menominasikan stan Dekranasda Kabupaten Sabu Raijua sebagai yang terbaik dan meraih juara satu dari 51 stan yang mengikuti pameran memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) 2011 di alun-alun Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) NTT dan Jalan Palapa-Kupang, 4-10 Februari 2011.

Stan terbaik kedua diraih Kantor Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Propinsi NTT disusul stan Bandung Jeans sebagai juara ketiga. Penilaian dilakukan dewan juri yang diketuai Rony Fernandez.

"Panitia menyediakan piala sebagai penghargaan untuk tiga stan terbaik yang sedianya diberikan pada seremoni penutupan, kemarin. Seremoni penutupan pameran yang dijadwalkan pukul 19.00 wita, Kamis (10/2/2011), tidak dilaksanakan karena pada pukul 15.30 wita, bahkan sejak pagi hari kemarin, peserta sudah meninggalkan arena pameran. Panitia akan mengirim piala penghargaan ke alamat masing-masing peserta," tutur Rony Fernandez, kemarin.

Stan Sabu Raijua memamerkan hi'i taba atau kain tenun yang panjangnya mencapai 30 meter. Hi'i taba mencatat rekor Muri (Museum Rekor Indonesia) pada tahun 1990-an. Selain hi'i taba, Sabu Raijua memamerkan kain hasil tenunan kelompok ibu-ibu binaan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT. Juga aneka kerajinan lain seperti mangkuk, cerek, sendok, anyaman topi petani, geraba. Bahan dasarnya dari lontar dan kelapa. "Semua ini menjadi magnet bagi para pengunjung pameran HPN," ujar Rony.

Stan Kantor Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Propinsi NTT memamerkan aneka makanan lokal sebagai potensi NTT. Sementara stan Bandung Jeans memajang aneka souvenir berupa kaos untuk orang dewasa dan kaos untuk anak-anak bergambar komodo, sasando, dan ti'ilangga.

Rony mengakui, meskipun penyelenggaraan pameran tidak semeriah yang diharapkan, namun animo pengunjung sangat tinggi, dan terjadi transaksi selama sepekan mencapai Rp 500 juta. "Ada banyak souvenir yang terbuat dari tenun ikat laris manis dibeli pengunjung. Bahkan ada tamu dari Jakarta yang langsung memesan dalam jumlah banyak," kata Rony.

Ketua Panitia Daerah HPN 2011, Ir. Andre W Koreh, MT, menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan pameran HPN 2011.
Pameran HPN 2011, diakuinya, terselenggara berkat dukungan dan kerja sama dengan Dinas Kominfo NTT, Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Dekranasda NTT dan kabupaten/kota se-NTT, Dharma Wanita Persatuan (DWP) NTT, lembaga perbankan, toko buku dan mitra usaha lainnya. "Terima kasih atas semua dukungannya," tutur Andre. (eni)

Tuan Rumah HPN 2012 Belum Diputuskan

KETUA Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Margiono mengatakan belum ada keputusan final tentang tuan rumah penyelenggara HPN ke-66 pada tahun 2012.

"Penentuan tuan rumah penyelenggara HPN akan dilakukan Maret," kata Margiono di Kupang, Kamis (10/2/2011), sebelum kembali ke Jakarta terkait hasil Rakernas PWI pada Rabu (9/2) malam dengan salah satu agenda pembahasan tuan rumah penyelenggara HPN.

Menurut Margiono, ada tiga provinsi yang mengajukan diri sebagai tuan rumah penyelenggara HPN 2012, yakni Maluku, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara.

"Memang ada tiga provinsi yang sudah mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah, tetapi belum bisa diputuskan. Pada Maret baru diputuskan siapa yang akan menjadi tuan rumah," katanya.
Mengenai pelaksanaan HPN di Kupang, dia mengatakan bangga karena NTT menjadi tuan rumah yang baik dan sukses. "Kalau pun ada kekurangan, itu hal biasa, tetapi pada intinya pelaksanaan HPN di Kupang meriah dan sukses," puji Margiono. (ant)

Pos Kupang 11 Februari 2011 halaman 9

Kesan Mereka Tentang HPN Kupang

Margiono (Ketua Umum PWI Pusat/Ketua Umum Panitia HPN 2011).
Sangat Meriah

HPN Tahun 2009 di Jakarta meriah, HPN 2010 di Palembang lebih meriah. Namun, HPN Kupang 2011 sangat meriah dan memberi kesan mendalam serta lebih merakyat. Soal hotel di Kupang menurut saya bukan jumlahnya terbatas tetapi tamu yang datang sangat banyak pada saat bersamaan. (den)

Tarman Azzam (Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat)
Sukses Luar Biasa

KEKURANGAN selalu ada tapi telah dikalahkan oleh banyak kelebihannya. HPN Kupang sukses luar biasa. (den)

Priyambodo RH (Ketua Panitia Pelaksana HPN Pusat)
Terima Kasih Panitia Daerah

SEJAK awal kami panitia pusat yakin HPN Kupang bakal sukses dan itu sudah terbukti. Salut dan terima kasih untuk kerja keras teman-teman panitia daerah di bawah pimpinan Bung Andre Koreh. Bahwa ada kekurangan, misalnya akomodasi perhotelan yang terbatas, hal itu bisa dimaklumi karena ada dua agenda besar yang bersamaan yaitu HPN dan kunjungan kerja presiden selama empat hari ke NTT. Kalau hanya untuk peserta HPN dari 33 propinsi saya kira tidak ada masalah dengan hotel. (den)

Frans Ohoiwutun (Ketua PWI Cabang Papua)
Luar Biasa

HPN Kupang luar biasa. Meriah dan berkesan. Sungguh di luar dugaan kami. Kerja panitia HPN Kupang rapi dan terencana. Pers di NTT bermitra dengan baik dengan pemerintah daerah dan masyarakat. (den)

Andi Sanif Atjo (Ketua PWI Cabang Sulawesi Barat)
Sukses Menjadi Tuan Rumah

KAMI mendapat pelayanan dari LO yang ramah. Mereka memberi gambaran sangat jelas tentang Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur. Kupang sukses menjadi tuan rumah HPN 2011. (den)

Upa Labuhari (Wakil Ketua Panitia HPN Pusat)
Kerja Terencana

SAYA sudah tiga kali menjadi anggota panitia HPN. Dari ketiganya itu di Kupang yang terbaik. Kerja terencana.

Baharuddin Reseh (Utusan Malaysia)
Sangat Berkesan

PERINGATAN Hari Pers Indonesia di Kupang sangat berkesan bagi kami. Kami belajar tentang kemerdekaan pers di sini, sesuatu yang belum ada di negeri kami. Awalnya kami menduga Kupang sebuah desa kecil, ternyata kota ini sangat ramai. Makanannya enak-enak. (den)


Yuwono (Anggota PWI Jawa Timur)
Kami Senang

SECARA keseluruhan persiapan panitia penyelenggara HPN sudah bagus. Kendaraan dan Liaison Officer yang membantu kami juga sudah bekerja dengan maksimal. Kami senang dengan penyambutan yang diberikan saat kami turun dari pesawat. Yang menjadi soal ialah makanan yang memang rasanya agak lain dibandingkan makanan dari daerah kami. Tapi saya rasa itu hal yang wajar. (ii)

Jalalludin (Wartawan Radar Mojokerto)
Perlu Information Center

SEHARUSNYA di Bandara El Tari ada information center mengenai peta Kota Kupang, tempat rekreasi atau hotel. Memang panitia sudah memiliki LO, namun saya rasa itu saja tidak cukup. Sehingga, apabila kami ingin ke tempat hiburan, kami tahu tempat mana yang akan kami kunjungi. Beruntung hotel tempat kita bermalam menyediakan tempat hiburan, sehingga saat acara selesai kami masih bisa bersantai di sana. (ii)

David AM Laleb (Warga NTT)
Terima Kasih Pers

SETIAP kegiatan tentu ada kelebihan dan kelemahan karena itu, perlu dimaklumi juga di sana-sini masih ada kekurangan. Kita harus maklumi karena NTT baru pertama kali menjadi tuan rumah kegiatan tingkat nasional. Masyarakat perlu berterima kasih kepada pers karena dengan momen HPN 2011 di Kupang ada banyak hal yang kita peroleh. Momen ini juga membuat NTT menjadi lirikan pemerintah pusat sehingga banyak bantuan yang turun untuk kepentingan seluruh masyarakat pada berbagai sektor. (yel)

Orpa Dae Panie (Warga TTS)
Jaga Kepercayaan

SAYA bangga sekali dan menitikkan air mata karena panitia bisa menyelenggarakan Hari Pers Nasional (HPN) di propinsi NTT. Ini menunjukkan pemerintah juga memiliki kepedulian terhadap daerah ini. Apalagi, Presiden SBY adalah presiden pertama yang mau menginap di Kota Kupang dan maujalan darat menempuh perjalanan jauh menuju ke Belu. Ini menujukkan ia mau melihat sendiri situasi dan kondisi rakyatnya. Makanya, pemerintah juga mau menambah anggaran ke daerah ini. Saya hanya berharap kegembiraan yang dialami ini hendaknya tetap dijaga dengan menjaga kepercayaan dari pemerintah pusat kepada daerah ini mengelolah uang tersebut. Saya harap pemerintah daerah memanfaatkan dana tersebut sesui dengan peruntukanya demi mempercepat pembangunan perekonomian di daerah ini, yang pada akhirnya mencapai kesejahtaraan masyarakat. Selain itu, agar NTT tidak dianggap sebagai propinsi tertinggal dan terbelakang lagi. (nia)

Pos Kupang, 11 Februari 2011 halaman 9

Wajah SoE Sontak Berubah

Oleh Thomas Duran

SEJAK mendapat informasi bahwa Presiden SBY akan mengunjungi Atambua, Kabupaten Belu, melalui jalan darat dan beristirahat dua jam di SoE, Bupati TTS, Ir. Paulus VR. Mella dan Wakil Bupati TTS, Drs. Benny A.Litelnoni terus menggelar rapat muspida untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menerima kedatangan orang nomor 1 Indonesia itu.

Rapat persiapan terus dilakukan, termasuk persiapan perbaikan dan pembersihan jalan negara mulai dari Batu Putih hingga Polen, Kecamatan Mollo Selatan.

Demikian juga kantor daerah dan DPRD TTS ditata rapi hingga taman dan persiapan ruang sholat yang disepakati menggunakan ruang kerja Sekda TTS dan ruang sidang DPRD sebagai ruang makan dan acara resepsi bersama unsur muspida dan para menteri.

Rencana transit SBY dan rombongan ini berubah, Selasa (8/2/2011) tengah malam. Saat itu bupati bersama anggota muspida dan panitia sedang melakukan rapat pemantapan, tiba - tiba sebuah surat dari Pemerintah Propinsi NTT masuk melalui mesin fax di Kantor Bupati TTS. Surat itu memberitahukan bahwa tanggal 9 Februari 2011 SBY dan Ibu Ani Yudhoyono bermalam di SoE.

Melalui surat itu juga Pemprop meminta pemerintah daerah setempat dan panitia segera mempersiapkan rumah jabatan bupati untuk penginapan Presiden dan Ibu Negara. Suasana saat itu sontak berubah, antara bingung dan kaget, karena waktunya begitu singkat dan serba mendadak.

"Setelah mendapat fax itu, saya merasa kaget dan terharu, Bapak Presiden mau bermalam di rumah jabatan yang begitu sederhana. Saat itu juga semua persiapan berubah. Persiapan fokus di rumah jabatan," kata Paulus Mella di sela-sela penataan rumah jabatan, Rabu (9/2/2011) pagi.
Sejak tanggal 8 Februari malam, semua barang milik pribadi bupati mulai diangkut ke rumah pribadi. Panitia sibuk membersihkan semua fasilitas yang ada hingga persiapan kamar tidur dan ruang makan bagi Presiden dan Ibu Negara sambil menunggu tempat tidur SBY yang didatangkan dari Kupang, yang baru tiba pukul 13.00 Wita.

Semua pihak terlibat dalam persiapan itu sesuai tugas masing-masing. Pihak kepolisian melakukan pengamanan di sepanjang jalan yang dilintasi SBY hingga depan rumah jabatan. Demikian juga anggota Kodim 1621 TTS dan Brimobda NTT serta pasukan Gegana yang mensterilkan rumah jabatan dan sekitarnya.

Belasan anggota TNI AD bersenjata lengkap melakukan pengintaian di sekitar rumah jabatan mulai bergeser mencari tempat dan menempati toko-toko berlantai tiga dan empat hingga SBY melanjutkan perjalanan darat menuju Atambua.

Sejak hari Rabu (9/2/2011), pengamanan di rumah jabatan dan sekitarnya hingga radius 1 km sangat ketat. Jalan Diponegoro menuju rumah jabatan bupati disteril oleh pihak kepolisisan. Yang boleh melintasi jalan itu sampai di rumah jabatan hanya panitia yang mengenakan tanda pengenal.

Rabu, 9 Februari 2011, pukul 14.00 Wita, warga Kota SoE mulai berdatangan. Mereka berjejer di sepanjang jalan negara mulai dari batas kota hingga rumah jabatan. Mereka sangat merindukan kedatangan SBY hingga tiba pukul 19.35 Wita.

Kedatangan rombongan SBY ini disambut dengan teriakan histeris oleh warga Kota SoE hingga meneteskan air mata haru. Untuk pengamanan di sekitar rumah jabatan, anggota keamanan dari berbagai satuan hingga panitia dan wartawan serta petugas penjemputan (natoni) harus hadir lebih awal.

Ketika mobil rombongan memasuki Kota SoE, terdengar teriakan histeris warga dan pejabat. Mereka yang sekian lama menunggu di depan rumah jabatan pun turut histeris dan meneteskan air mata haru.

Para pejabat dan anggota muspida berdiri berjejer di pintu masuk untuk bersalaman dengan SBY dan Ibu Ani Yudhoyono setelah diterima oleh Paulus Mella dan Ibu Rambu Atanau.
SBY dan Ibu Ani Yudhoyono diterima dengan adat natoni dan pengalungan selimut sebagai ungkapan selamat datang bagi tamu.

Presdien dan Ibu Negara dituntun Paulus Mella dan Ibu Ketua PKK Kabupaten TTS masuk ke dalam rumah jabatan sambil memperkenalkan para pejabat dan anggota muspida serta pimpinan DPRD setempat diikuti para menteri dan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya bersama Ny. Lucia Andinda Lebu Raya.

Para menteri dan Gubernur NTT mengantar SBY dan Ibu Ani Yudhoyono sampai di halaman rumah jabatan untuk beristirahat sebelum keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju Atambua. Saat itu semua aktivitas di rumah jabatan diambil-alih oleh Rumah Tangga Kepresidenan layaknya di Istana Presiden.

Demikian juga Bupati Mella dan ibu, Wakil Bupati Benny Litelnoni dan ibu serta anggota Muspida, semua pejabat dan panitia kembali ke rumah masing-masing. Meski demikian, pengamanan dalam Kota SoE terus berlanjut hingga Kamis (10/2/2011), setelah rombongan SBY melanjutkan perjalanan ke Atambua.

Warga TTS tidak puas sebatas menjemput. Ketika SBY dan rombongan hendak berangkat ke Atambua pun ribuan warga bersama anak-anak sekolah memadati jalan mulai dari depan Pos 1 Kota SoE sampai di perbatasan TTS dan TTU. Keberangkatan RI 1 ini juga dilepas dengan adat natoni dan pengalungan selimut sebagai ucapan selamat jalan yang diringi dengan tarian daerah setempat.

Dari halaman depan rumah jabatan terdengar teriakan histeris masyarakat di sepanjang jalan hingga rombongan meninggalkan Kota SoE. Selamat jalan Presiden. (*)

Pos Kupang, 11 Februari 2011 halaman 1